Apakah Semua Cowok itu Sama Saja?


Beberapa kali aku pernah mendengar ungkapan seperti ini:

"SEMUA COWOK ITU SAMA SAJA!"

Entah dalam nada bercanda, maupun dalam keadaan serius. Yang jelas, cukup menarik untuk kita bahas di pertemuan kali ini.

Biasanya, yang bilang semua cowok itu sama adalah cewek-cewek yang patah hati. Bener, kan? Lebih tepatnya baru saja patah hati. Atau lebih tepatnya lagi, disakiti oleh cowok beberapa kali, dengan orang yang beda tentunya.

Nah, ini menarik. Misal saja, si cewek yang baru saja patah itu bernama Yuni. 

Singkatnya, Yuni ini pernah menjalin hubungan istimewa dengan beberapa cowok. Sebut saja tiga kali. Dan sayangnya, semua berujung patah hati dan dia merasa menjadi pihak yang tersakiti.

Lalu, dia merutuki diri dan sedih berhari-hari. Memori di otaknya menarik kesimpulan yang luar biasa biasnya; SEMUA COWOK ITU SAMA SAJA!

Mulai saat itu, dia menaruh curiga terhadap semua cowok. Walau cowok yang mendekatinya benar-benar berniat baik sekalipun.

Pertanyaannya, apakah benar SEMUA COWOK ITU SAMA SAJA?

Jawabannya, jelas TIDAK. Setiap individu memiliki keunikannya masing-masing.

Apalagi kalau dikaitkan dengan ilustrasi di atas, sungguh tidak adil mengambil kesimpulan dari sampel yang sangat kecil; 3 dari milyaran cowok yang ada di dunia.

Kalau ditarik dalam konteks logical fallacy atau sesat yang pikir yang sering terjadi di masyarakat, penarikan kesimpulan seperti ini dinamakan Hasty Generalization atau Overgeneralization.

Intinya, menarik kesimpulan yang khusus dari sesuatu yang terlalu umum. Atau bisa dikatakan juga, mengambil kesimpulan dengan menggunakan sampel yang terlalu sedikit. Bahkan kalau berdasarkan ilustrasi di atas, sampelnya sangat sangat sangat sedikit.

Contoh lain dari sesat fikir yang termasuk Overgeneralization bisa kita lihat di ungkapan berikut:

"Merokok itu tidak berpengaruh pada kesehatan, kakek teman saya aja perokok aktif tapi bisa hidup sampai umur 95 tahun!"

Kalau tidak tahu sama sekali tentang sesat fikir, pasti akan setuju saja dengan ungkapan di atas. Tapi, mari kita teliti.

Seperti kasus semua cowok itu sama saja, kasus merokok tidak berpengaruh pada kesehatan adalah hal yang sama; menarik kesimpulan dari sampel yang terlalu sedikit, bahkan sangat sangat sangat sedikit.

Kalau kita ambil sampel misal 500 orang yang terdiri dari perokok aktif dan yang tidak merokok, maka hasilnya pun saya yakin akan sangat berbeda. Hukum yang berlaku adalah, semakin banyak sampel yang kita ambil, maka akan semakin akurat pula kesimpulannya.

Bisa dipahami ya, tentang Overgeneralization ini?

Pesanku, kita harus bijak dalam memandang sesuatu, apalagi menarik kesimpulan dari kejadian yang ada. Jangan sampai sesat fikir.

Oh ya, buat yang masih patah hati karena merasa terlalu sering disakiti sama cowok, lekas pulih ya. Gak semua cowok jahat, masih banyak yang baik. Jangan terlalu menutup diri dan berprasangka buruk, gak baik buat diri sendiri dan orang lain.

Mengatakan semua cowok sama saja dan menyalahkan keadaan tidak bisa membuat lukamu sembuh.

Dan seperti biasa, terima kasih sudah membaca tulisanku sampai di baris ini. Untuk selanjutnya, kita bahas apa lagi? Tulis di kolom komentar ya. 

See you!

Apakah Semua Cowok itu Sama Saja? Apakah Semua Cowok itu Sama Saja? Reviewed by David Aji Pangestu on 5/11/2020 05:48:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.