Baju Warna-Warni dan Punyaku Masih Suci


Coba, tebak aku yang mana?

Kalau kamu adalah orang yang pernah bertemu denganku, atau minimal tahu foto di sosial mediaku, mungkin tak sulit untuk menebaknya.

Aku yang tengah, yang bajunya masih putih. Hehe.

Di era COVID-19 ini, masih banyak anak SMA yang melakukan tradisi seperti gambar di atas. Mencoret seragam dengan warna pelangi. Setahuku, sudah ada sejak dulu. Tapi, aku tidak tahu bagaimana sejarah tradisi ini dimulai.

Dan, teman-temanku melakukan tradisi ini, walaupun sebenarnya ada pembatasan sosial karena pandemi.

Well, sebenarnya aku tidak mau ikut. Tapi, rekam jejakku terlalu buruk untuk bersosialisasi di kelasku sendiri. Mulai kelas 10 sampai kelas 12, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar kelas; sekadar melepas penat, atau kegiatan organisasi.

Mungkin, gak apa-apa lah ikut. Ya walaupun, aku tidak mencoret-coret seragam sekolahku.

Mengapa?

Ada beberapa alasan.,

Yang jelas, sejak dulu aku beranggapan bahwa mencoret seragam dengan berbagai pewarna dan tinta adalah hal yang kurang baik. Bukan semestinya baju yang bersih harus dikotori.

Kedua, aku sungguh tak tega jika mengotori baju yang telah 3 tahun aku pakai untuk berjuang. Mulai dari masa-masa pembiasaan di SMA, jatuh cinta sama anak kelas sebelah, sampai acara organisasi sekolah. Pokoknya, penuh kenangan.

Ketiga, tak bisa dibayangkan bagaimana reaksi orang tua jika aku telah mengotori baju yang telah dibeli lewat kucuran keringat mereka. Rela banting tulang demi seragam sekolahku, dan aku malah mengotorinya dengan coretan yang tidak jelas tujuannya? Ah, tidak.

Apa lagi, ya? Mungkin kamu bisa menambahkan sendiri ya, menurut kamu mengapa seragam kita tidak boleh dicoret-coret.

Oh ya, walaupun aku gak tahu bagaimana info resminya, aku yakin bahwa kalau ketahuan pihak berwajib, pasti tindakanku bersama teman-temanku ini dapat teguran yang cukup keras.

Tapi, mau bagaimana lagi. Aku menghargai mereka sebagai teman. Setidaknya, menghargai ajakan mereka untuk sekadar bertegur sapa di era corona.

Buat kamu yang belum mencoret seragam sekolah seperti gambar di atas, lebih baik jangan ya. Jaga baju putihmu itu. Kalau sekadar tanda tangan, cukup mintalah di buku. Kalau sekadar sebagai kenangan, cukuplah tersemat di ingatan.

Kita benar dalam perspektif yang berbeda-beda. Mungkin, begitulah cara mereka merayakan kemenangan. Tapi aku ya aku, bukan kamu. Kita tidak bisa disamaratakan.

Tapi yang terpenting, jangan merugikan orang lain. 

Buat pejuang di garda terdepan, aku minta maaf kalau tidak melakukan social distancing, setidaknya, untuk hari itu.

Dan untuk kita semua, sehat selalu. Semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya.
Baju Warna-Warni dan Punyaku Masih Suci Baju Warna-Warni dan Punyaku Masih Suci Reviewed by David Aji Pangestu on 5/10/2020 09:23:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.