Banyak Bertanya, Bikin Sengsara


Dalam beberapa waktu terakhir ini, saya memanfaatkan sosial media sosial untuk memberi edukasi untuk anak SMA tentang jalur masuk perguruan tinggi. Seperti yang Anda tahu, topik ini sangat dibutuhkan oleh mereka.

Sayangnya, setelah berulang kali saya jelaskan tentang hal yang sama tetapi tetap saja ada pertanyaan sejenis yang muncul secara berulang.

“Mas, bedanya SNMPTN dan SBMPTN itu apa?”
“Mas, saya dari jurusan IPA apakah bisa masuk jurusan hukum pas SMA nanti?”
“Nilai rapor segini bisa masuk jurusan manajemen nggak, Mas?”

Dan berbagai pertanyaan mendasar lainnya.
Sebenarnya, tidak ada salahnya bertanya. Namun, yang saya sayangkan adalah mereka tidak menerapkan hal yang berulang kali saya ajarkan dengan tak bosan-bosannya; untuk pertanyaan basic, silakan cari sendiri terlebih dahulu jawabannya. Jika sudah mentok tidak ketemu, baru tanyakan ke saya. Sungguh bikin sengsara jika pertanyaannya berupa hal-hal yang sangat mudah dan cepat ditemukan jawabannya di internet.

Asumsi saya adalah mereka tidak mencari sendiri terlebih dahulu. Padahal, jika mau, mereka akan mendapatkan jawabannya kurang dari 10 menit untuk pertanyaan seperti di atas. Sedangkan untuk menunggu jawaban dari orang lain misalnya, bisa jadi membutuhkan waktu yang lebih lama dari itu. Apalagi jika yang ditanyai sedang sibuk. Apakah tidak buang-buang waktu? Bukankah lebih cepat lebih baik?

Hmm, okelah saya berusaha positive thinking. Mungkin, perihal masuk perguruan tinggi ini memang agak membingungkan bagi anak SMA. Namun, kebiasaan bertanya pertanyaan sepele yang ada jawabannya di Google tidak hanya tentang topik perguruan tinggi, tetapi banyak hal lagi di luar itu.

Contohnya adalah ketika saya masih aktif memberi edukasi bisnis terhadap anak muda beberapa bulan lalu. Pertanyaan sepele seperti “Apa itu reseller?” masih kerap kali muncul. Padahal, pengertian reseller juga tidak perlu diperdebatkan sehingga harus ditanyakan definisinya kepada banyak orang. Lebih parah lagi, pertanyaan itu muncul setelah saya membuat konten yang sebegitu banyaknya tentang bisnis online. Saya yakin, yang bertanya juga mengetahui hal tersebut.

Perlu digarisbawahi, orang-orang yang bertanya hal sepele tadi adalah orang mempunyai akal yang normal, fasilitas teknologi yang memadai, dan bukanlah orang yang mempunyai keterbatasan mengakses internet. Lalu, apa yang bisa saya simpulkan?

Pertama, masih banyak anak muda Indonesia yang hidupnya seperti keong di zaman yang serba cepat. Lambat, tergerus zaman. Padahal, jawaban atas pertanyaan sepele yang ada di kepalanya itu sangat mudah untuk ditemukan jika mau bergerak mencarinya secara otodidak. Jika bukan permasalahan yang agak kompleks atau pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh orang tertentu, tidak perlu lah bertanya ke orang lain.

Kedua, basic knowledges atau pengetahuan dasar anak muda masih tergolong rendah. Ini terbukti dengan masih banyaknya anak muda bertanya hal-hal sepele. Kita jelas tertinggal dengan generasi muda di negeri seberang yang sudah mendiskusikan hak-hal besar. 

Ketiga, pengetahuan tentang literasi digital di Indonesia masih kurang. Buktinya, bukan hanya tidak bisa menggunakan internet dengan bijak, namun juga tidak bisa memanfaatkan internet untuk kebutuhan dasar. Banyak hal yang bisa diketahui dengan muda, tetapi masih saja enggan untuk menjemput pengetahuan yang ada dalam genggaman.

Tentu, pengalaman yang saya dapatkan dan kesimpulan yang saya peroleh tidak didapatkan dari keseluruhan sampel anak muda di Indonesia. Namun, saya rasa cukup menggambarkan keadaan anak muda di masa sekarang.

Setelah ‘mencaki-maki’ generasi sendiri, izinkan saya menyuguhkan alternatif atas beberapa permasalahan di atas.

1. Tumbuhkan sikap proaktif. Artinya, harus punya inisiatif untuk melakukan sesuatu tanpa ada dorongan dari orang lain. Jika ingin tahu sesuatu hal, cari sendiri terlebih dahulu. Jika tidak ketemu, bisa tanyakan kepada ahlinya.

Bertanya kepada ahli memang shortcut untuk mengetahui banyak hal. Namun, jika kita bertanya tanpa mempunyai basic knowledges yang memadai, itu sama saja dengan merusak diri sendiri. Mematikan jiwa pembelajar. Kalau punya bekal sebelum bertanya, orang akan  cenderung lebih suka jika Anda tanyai. Jangan sampai pertanyaan Anda bikin sengsara gara-gara tidak mengetahui apa pun tentang topik tersebut.

2. Pelajari cara mencari pengetahuan di internet. Banyak orang yang tidak sadar atau bahkan pura-pura tidak tahu bahwa mesin pencari seperti Google mempunyai banyak solusi atas permasalahan yang ada di kepala kita. Ketik kata kunci yang pas dan gunakan trik berselancar di internet yang caranya ada di Google pula.

3. Mulailah membaca dan jangan malas. Ya, jangan malas membaca. Saya yakin ini adalah permasalahan utamanya. Banyak orang yang sudah tahu bahwa suatu artikel akan menjawab pertanyaannya, tetapi enggan untuk membacanya. Pada akhirnya, mengandalkan orang lain untuk menemukan jawaban dari pertanyaan sepele seperti tadi. Sudah, jujur saja, begini kan realitanya? Orang lain dijadikan jalan pintas dalam mengetahui sesuatu.

Sekali lagi, tentu bukan hal buruk untuk bertanya ke orang lain. Namun, mau sampai kapan kebiasaan berpangku tangan kepada orang lain ini Anda lakukan? Takutnya, Anda atau mereka yang punya mental buruk tadi akan kebingungan jika tertimpa permasalahan yang lebih besar. Bingung jika harus mencari solusi sendiri, gara-gara terlalu sering mengandalkan orang lain.

Kesimpulannya, jangan jadi keong di zaman yang kebanjiran informasi ini. Harus lebih cepat, harus lebih adaptif akan perubahan. Ya walaupun, hidupmu adalah pilihanmu. Pilihanmu di masa sekarang, tentunya akan berpengaruh pada dirimu di masa depan. Masih mau malas-malasan?

Segitu dulu. Selamat Hari Pahlawan! Jangan sia-siakan keringat dan darah yang sudah mereka tumpahkan demi Indonesia.

Salam,
David Aji Pangestu
Banyak Bertanya, Bikin Sengsara Banyak Bertanya, Bikin Sengsara Reviewed by David Aji Pangestu on 11/10/2020 06:40:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.