Pengalaman Magang di Salah Satu Proyek yang Bekerja Sama dengan ASEAN Foundation

Sejak akhir September hingga awal November lalu, saya mendapatkan pengalaman baru menjadi asisten penulis di salah satu proyek yang bekerja sama dengan ASEAN Foundation. Berhubung pekerjaan yang saya lakukan ini bersifat 'rahasia', maka instansi utama dalam cerita ini tidak akan saya sebutkan secara eksplisit. Walaupun begitu, jika kamu berkecimpung di bidang yang berkaitan, tidak menutup kemungkinan dapat menebak nama instansinya.

Jadi, selama sekitar dua bulan tersebut saya menjadi asisten penulis untuk mengerjakan sebuah modul untuk kebutuhan pelatihan pembuatan board game untuk kebutuhan edukasi. Pada awalnya, saya sedikit kehilangan keberanian untuk mendaftar magang ini karena persyaratan yang tertulis adalah bisa menulis, mempunyai pengalaman menulis modul pelatihan, bisa kerja remote, dan bisa bekerja sama dalam tim. Ya, saya tidak memenuhi persyaratan di poin kedua, yaitu mempunyai pengalaman menulis modul pelatihan. Selain itu, saya tidak mempunyai pengetahuan teknis tentang membuat permainan. 

Setelah berpikir ulang beberapa kali, akhirnya saya tetap melamar di kesempatan magangluar kampus ini dengan pertimbangan siapa tahu bisa lolos bermodalkan pengalaman modul yang saya buat ketika menjadi panitia PPSMB (sebutan untuk 'ospek'-nya). Selain itu, saya juga melampirkan ebook saya yang berjudul "Termotivasi Tanpa Dimotivasi" untuk memperkuat bahwa saya memang bisa menulis. Uniknya, lamaran saya lakukan dengan hanya mengirim dua berkas tersebut (modul PPSMB yang pernah saya kerjakan dan ebook pribadi) tanpa melampirkan CV atau pun resume.

Setelah mengirim lamaran tersebut, saya sebenarnya tidak berharap lebih di magang ini karena memang tidak memenuhi persyaratan, modal nekat doang. Namun, setelah dua minggu berselang, saya dapat email balasan kalau saya jadi kandidat pertama peserta magang ini (ya, ternyata kuotanya hanya untuk satu orang) dan dimohon untuk konfirmasi dalam 2x24 jam. Tanpa berburu-buru, saya membaca ulang balasan informasi tersebut dan membaca ulang gambaran umum apa saja yang akan dilakukan. Setelah deal, barulah saya tanda tangan MoU dengan pihak terkait.

Singkat cerita, terjunlah saya dalam dunia board games atau permainan papan. Jujur, ketika memulai proyek ini, saya minim sekali pengetahuan tentang jenis permainan ini. Bahkan, sebenarnya sekadar main permainan monopoli pun sebenarnya nggak bisa karena ketika kecil tidak punya akses ke permainan tersebut. Maka dari itu, bisa dibilang saya benar-benar dari nol terkait materi board games ini.

Walaupun begitu, masih ada beberapa bagian modul yang tidak terlalu asing bagi saya, seperti materi tentang bagaimana menjadi wirausaha yang berdampak baik bagi sekitar dan tentang kesehatan mental dan empati dalam berbisnis. Ya, target proyek yang saya ikut di dalamnya ini memang untuk mencetak wirausahawan baru di dunia board games yang belum terlalu hype di Indonesia tetapi cukup punya pangsa pasar yang besar di luar negeri.

Ketika proses menulis modul ini, saya semakin menyadari satu hal; di luar sana banyak orang yang memperjuangkan sesuatu lewat caranya sendiri dengan semaksimal mungkin. Saya punya pemikiran seperti itu karena baru sadar kalau dunia board games itu sangat luas bahkan sangat digandrungi dan setara derajatnya dengan buku kalau di Jerman. Saya jadi tahu kalau jenis permainan ini jauh lebih banyak sisi positifnya daripada permainan digital. Kalau sudah berkeluarga nanti (sudah mikir berkeluarga aja haha), saya mempunyai pemikiran bahwa lebih baik membelikan board games untuk anak alih-alih smartphones yang sering kali malah mematikan keterampilan.

Pasar board games di Indonesia saat ini masih  cukup sepi karena harganya juga relatif mahal bagi sebagian besar masyarakat kita yang belum aware perihal banyaknya manfaat yang bisa didapat. Padahal, permainan jenis ini bisa dijadikan sebagai alternatif kalau anak atau kita sekalipun yang sudah dewasa sedang jenuh membaca buku dan mencari pengalaman baru. Board games bisa dijadikan media belajar yang efektif. Bahkan, di Indonesia sendiri ada permainan Business Craft yang dijadikan alat simulasi pengembangan bisnis di berbagai workshop bisnis.

Oh ya, di akhir proses penulisan modul, saya juga berkesempatan menjadi observer FGD tempat saya magang. Saat itu, FGD dihadiri dihadiri oleh beberapa pihak penting dalam board games yang cukup membuat semakin sadar akan peluang yang bisa dimaksimalkan permainan ini dalam dunia edukasi. Salah satu pihak dari instansi pendidikan juga menaruh minatnya dengan jenis permainan ini dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran.

Foto: Focus Group Discussion Bersama Pihak Terkait

Terakhir, pengalaman paling berharga selama magang sebagai asisten penulis ini, saya jadi semakin yakin bahwa jika kita bersungguh-sungguh atas apa yang kita kerjakan, pada akhirnya akan selesai juga. Dalam proses menulis modul, saya beberapa kali down karena beberapa bagian yang harus saya tulis sangat terasa asing. Saya harus mencari referensi board games ke berbagai buku, situs, dan video yang hampir semua berbahasa asing. Bagi mahasiswa yang masih struggle dengan Bahasa Inggris, mengerjakan proyek ini membuat kemampuan membaca saya juga semakin terasah.

Pesan saya; jangan takut untuk mencoba hal baru. Mungkin awalnya terasa susah, tetapi pada akhirnya kamu akan bisa melewatinya. Jangan berhenti di tengah jalan. Semangat!



Pengalaman Magang di Salah Satu Proyek yang Bekerja Sama dengan ASEAN Foundation Pengalaman Magang di Salah Satu Proyek yang Bekerja Sama dengan ASEAN Foundation Reviewed by David Aji Pangestu on 12/15/2021 09:08:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.