Keluar dari Menara Gading: (Berusaha) Menanamkan Idealisme UGM di Lembaga Birokrasi

Table of Contents
Seragam warna khaki yang menjadi ciri khas ASN (Sumber: dok. pribadi)

Saat menjadi mahasiswa di Fisipol UGM, kami diajari banyak sekali hal tentang masyarakat dan dunia politik. Ya, karena memang itulah fokus kami di fakultas tersebut, sesuai namanya. Kami diajari bahwa sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri, kita harus mengutamakan kepentingan mereka. Terkhusus, menolong dan memberdayakan masyarakat yang ditindas oleh sistem.

Setelah kurang dari empat tahun menjadi 'penonton' kehidupan bermasyarakat dan dunia politik yang seringkali terasa gonjang-ganjing, saya akhirnya terjun ke langsung ke dunia tersebut. Terjun ke masyarakat secara utuh tanpa embel-embel mahasiswa dengan berbagai teori kakunya, sekaligus menjadi bagian dari aparatur negara. Setelah menjadi penonton, saya menjadi pemain dalam panggung bermasyarakat tersebut.

Saya sudah memahami bahwa kepentingan masyarakat yang utama dan hal yang bisa dilakukan agar bisa menjadi pelayanan yang baik untuk mereka. Namun, ketika dihadapkan dengan kenyataan di lapangan yang mempunyai beragam faktor tak terduga, saya pada akhirnya mulai melihat dunia dengan lebih realistis, bukan teoritis yang baku. 

Contoh kecilnya, sekadar mendapatkan dari atasan untuk melakukan sesuatu, terkadang seorang paratur negara perlu waktu seharian. Di sisi lain, ada beberapa bidang di pemerintahan yang berjalan dengan serampangan. Bukan tidak bisa membuat SOP, tetapi sistem yang terlanjur ruwet membuat sebuah alur yang jelas sekalipun menjadi sia-sia. Inilah salah satu hal yang berubah saat kita mulai memasuki dunia dewasa.

Masa Jeda Penuh Refleksi: Jalan Menuju Kesadaran

Sebelum resmi menjadi bagian dari aparatur negara, saya mengambil jeda untuk menikmati suasana yang hangat di rumah: keluarga yang hampir empat tahun hanya sebagai tempat singgah ketika libur semester. Itu pun terkadang hanya rehat satu minggu atau tidak sama sekali.

Saat masa jeda tersebut, saya tidak terlalu banyak mengambil tanggung jawab (alias pekerjaan sampingan). Saya hanya fokus pada satu pekerjaan freelance yang dikerjakan secara remote dari salah satu perusahaan konsultan CSR & ESG. Akibatnya, saya mempunyai cukup banyak waktu untuk merenungi kehidupan selama beberapa tahun ke belakang. Halaman-halaman yang saya lalui dan terkadang lupa untuk direfleksikan.

Saya menyadari cukup banyak hal. Mulai dari Ibu dan Bapak saya bersusah payah membiayai anak pertamanya yang bisa kuliah, perbedaan standar cukup mengenai gaji di suatu daerah, kepahitan dalam rumah tangga yang jarang dibicarakan, hingga orang berseragam yang nampak keren, tetapi terkadang juga ditempuh melalui 'jalur belakang'. Alias pelicin. Alias orang dalam. Tanpa melihat secara sungguh-sungguh kompetensi dari orang tersebut.

Pada fase jeda tersebut, saya jadi sadar dan paham bahwa menjadi dewasa itu tidak mudah. Banyak yang dipikirkan. Syukurnya, banyak sekali hal yang saya pahami setelah melalui fase jeda tersebut. Barangkali, jika saya tidak segera resign dari pekerjaan sebelumnya, saya akan menjadi individu yang berbeda. Orang yang punya pekerjaan baru, tetapi kurang bisa memahami kondisi sekitar. Entah itu keluarga sendiri, masyarakat, hingga keadaan negara.

Kelahiran

Pada akhirnya, setelah melalui fase yang cukup menguras otak dan emosi, saat masa jeda tersebut, saya menelurkan sebuah karya: Saat Kita Mulai Dewasa. Buku tersebut merupakan sebuah refleksi saya tentang tiga topik besar: keluarga, tetangga (isu sosial), dan negara (kondisi politik-pemerintahan).

Saya sangat sadar, saat menginjak usia dewasa, kita seringkali tergopoh-gopoh untuk memenuhi target pribadi dan melupakan hal-hal yang lebih penting. Oleh karena itu, buku tersebut hadir sebagai teman refleksi dalam proses menuju dewasa. Bukan untuk menggurui, tetapi menemani.

1 komentar

Comment Author Avatar
2/09/2026 11:58:00 AM Delete
Mantappp... by dulhid_latkesmas