AI Gak Pernah Tanya 'Kapan Nikah?', Itulah Kenapa Kita Lebih Suka Nanya Dia daripada ke Tetangga
Table of Contents
![]() |
| Pagar indekos di Yogyakarta dengan pagar cukup tinggi (Sumber: Dokumentasi Pribadi) |
Zaman serba digital. Semua orang punya smartphone. Ketika seseorang membutuhkan sesuatu, ia akan menyentuh layarnya dan kebutuhannya pun terpenuhi. Entah itu untuk menanyakan resep makanan, belanja kebutuhan pokok, hingga konsultasi soal masalah penyakit. Semua ada di genggaman.
Terlebih, sekarang sudah ada AI, teknologi yang rasanya menjadi 'saingan berat' mesin pencari seperti Google. Tidak perlu cari artikel paling relevan, tinggal ketik ke ChatGPT atau Gemini, mereka akan memberikan jawaban instan. Tidak seperti satu atau dua tahun lalu, jawaban dari AI sudah semakin presisi. Ketakutan akan jawaban yang ngawur sudah jauh berkurang.
AI inilah yang membuat sebagian orang, semakin bergantung pada teknologi untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak perlu nanya tetangga, tidak perlu buru-buru ke psikolog, tidak perlu capek-capek mencari sesuatu secara manual. Sekarang, AI sudah bisa menjawab hampir semua hal yang ingin kita ketahui. Terlebih, AI tidak akan basa-basi seperti tetangga julid, "Kapan nikah?", "Kapan punya momongan?".
AI hanya perlu prompt singkat. Jawaban akan keluar dalam beberapa detik tanpa harus mengorbankan waktu untuk basa-basi yang seringkali jadi bahan gunjingan.
Solusi Instan dan Mahalnya Sebuah Privasi
Dulu, sebelum teknologi masif seperti sekarang, kita sangat mengandalkan jejaring sosial. Pasangan, keluarga, tetangga, dan teman dekat adalah orang-orang yang kita mintai tolong dan tempat bertanya ketika menghadapi semua permasalahan. Namun, adanya Google hingga AI, membuat kita menempuh jalan yang lebih praktis: tidak perlu bertanya ke manusia, teknologi sudah memiliki jawabannya.
Terlepas dari solusi instan yang bisa didapat, banyak orang enggan menanyakan sesuatu ke orang terdekat karena malas untuk basa-basi. Soalnya, tak jarang, bermula dari basa-basi, privasi kita mulai diusik dengan berbagai pertanyaan yang mengganggu. Pertanyaan soal pekerjaan, keluarga, kondisi keuangan, dan sebagainya. Tidak semua orang memiliki energi untuk merespons hal-hal tersebut, apalagi tidak telalu dekat dan hanya pertanyaan angin lalu. Privasi yang bermula dari basa-basi, tak jarang juga menjadi bahan gosip satu komplek.
Pada dunia yang sudah memuja sebuah kecepatan, privasi lebih berharga dari rasa kebersamaan semu. Lebih baik menjaga batasan daripada seperti punya banyak teman, tetapi tidak benar-benar mengerti keadaan dan justru menyakiti hati.
Meski, tidak semua hal bisa dijawab dan dibantu oleh AI. Ketika kita sakit, jemuran lupa diangkat ketika hujan, kunci rumah tiba-tiba hilang, tidak akan bisa dibantu secara instan oleh teknologi seperti AI. Setidaknya sampai sekarang. Terkadang, pada suatu kondisi yang bikin pening, hanya tetangga dan orang terdekat yang bisa membantu.
AI adalah solusi yang mudah dan instan, tetapi ia tidak mempunyai wujud fisik. Manusia punya.
Menjadi Dewasa yang Tidak Terasing
Meski teknologi sudah memberikan berbagai kemudahan instan, kita tetaplah makhluk sosial. Kalau kita bukan anak seorang sultan, ataupun punya kemampuan serba bisa sehingga bisa melakukan semua hal sendiri, terlibat dengan orang lain adalah hal yang mutlak. Dan memang, kemudahan yang kita dapatkan, juga merupakan sebuah efek dari kemajuan umat manusia yang dicapai secara simultan dan bersama-sama.
Jadi, bagaimanapun kita, tetaplah sadar bahwa di dunia ini, kita tidak sendiri. Rasa bahagia kita, barangkali memang ada campur tangan orang lain. Pun, sebagai sesama manusia yang mempunyai akal, kita tidak bisa untuk abai. Pada orang yang sedang kesusahan, pada alam yang memberi kita kemudahan bernapas, hingga pada Tuhan yang telah memberi kita hidup.
Pada sisi yang lain lagi, terlibat dalam urusan bersama membuat diri kita tidak merasa terasing. Tidak merasa sendiri. Pasalnya, perkembangan teknologi yang menyebabkan kita sering terdistraksi, membuat kita merasa terus-terusan sendiri.
Padahal, kita punya teman yang peduli. Punya keluarga yang menyayangi kita. Punya orang yang di luaran sana bisa tersenyum karena kita. Maka, marilah kita untuk tetap hidup tanpa merasa terasing. Terlibat secukupnya, mandiri semampunya.

Posting Komentar