Sejak akhir Maret 2026, tidak lama setelah memasuki umur 24 tahun, saya memutuskan untuk lebih banyak aktivitas fisik. Dimulai dari jalan kaki di akhir pekan hingga berujung rutin latihan di gym yang merupakan fasilitas kantor.
Awalnya, saya hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, khususnya masalah penampilan. Punya badan yang lebih besar dan fungsional untuk kondisi yang lebih berat. Maka dari itu, fokus saya adalah menaikkan massa otot dan menambah berat badan secara keseluruhan. Maka dari itu, aktivitas di gym menjadi agenda utama dalam sekitar dua pekan terakhir.
Setelah menjalani rutinitas tersebut, saya menyadari bahwa efek yang terjadi bukan badan lebih kekar (ini membutuhkan waktu yang panjang), tetapi lebih menakjubkan dari itu. Saya merasa.. lebih bahagia, lebih konsisten merawat diri, lebih mudah tidur lalu bangun lebih pagi. Ternyata, bukan otot yang saya dapatkan lebih dahulu, melainkan kemampuan untuk mencintai diri sendiri. Self-love.
Insecurity yang Bahkan Baru Saya Sadari
 |
| Fasilitas Gym di UPT Latkesmas Murnajati, Kab. Malang |
Tidak banyak yang tahu bahwa sedari kecil, meski tergolong tidak banyak bicara, saya juga sangat menyukai aktivitas fisik. Main di sawah, bersepeda jauh sampai dicari satu keluarga besar, main bola setiap ada kesempatan, renang setiap weekend, dan banyak lainnya. Intinya, saya gemar untuk bergerak.
Akan tetapi, ada satu hal yang baru disadari, sangat mengubah hidup saya. Pada suatu hari di semester pertama kelas enam sekolah dasar, saya mengalami cedera fatal ketika bermain bola voli. Tulang pada lengan tangan kiri saya patah karena salah posisi ketika jatuh pasca menahan bola. Jika kejadian itu terulang, orang lain akan melihat tangan saya seperti mempunyai dua siku.
Setelah itu, saya dibawa ke sangkal putung, bukan ke rumah sakit. Saya ditangani secara tradisional dan sebagai anak kecil, saya hanya menurut. Meski, setelah tangan saya kembali tersambung, hasil kurang memuaskan. Tidak sempurna. Tidak sekuat dulu. Terlebih, satu tahun berikutnya, saya sempat sedikit mengalami cedera tambahan ketika seleksi tanding dalam turnamen pencak silat.
Sejak saat itu, saya meragukan kemampuan fisik diri sendiri. Mungkin, olahraga atau aktivitas fisik berat apapun itu, tidak cocok untuk saya. Hal tersebut tertanam dalam diri sendiri, bahkan lebih dari sepuluh tahun berikutnya. Hal yang baru saya sadari betul akhir-akhir ini.
Tentu, rasa insecure tersebut terus melanda selama akhir sekolah dasar hingga ketika kuliah. Bahkan, sempat membuat saya menangis ketika KKN karena cara melompat ketika bermain voli terlihat aneh. Orang lain tidak paham bahwa saya masih memiliki trauma.
Gym Mengingatkan Satu Hal: Saya Hanya Punya Satu Kekurangan, Tetapi Jauh Lebih Banyak Kelebihan
Bisa dibilang, saya meragukan kemampuan fisik saya selama sepuluh tahun setelah cedera tambahan ketika seleksi turnamen pencak silat. Saya punya pemahaman diri bahwa akan cedera lagi jika melakukan gerakan yang macam-macam. Padahal, dalam diri saya selama ini, sangat ingin menekuni olahraga lagi.
Meski belum balik menekuni beladiri kembali, setelah gym beberapa kali, saya menjadi sadar bahwa kemampuan fisik saya tidak selemah itu, khususnya tangan yang pernah patah. Buktinya, saya dapat mengangkat beban yang sama pada kedua tangan. Meski ada sedikit perbedaan kekuatan, itu sangat dimaklumi. Bahkan, bagi orang normal sekalipun, itu sering terjadi.
Saya kembali yakin bahwa meski mempunyai tangan dengan fisiologis tidak sempurna, secara fungsi tidak jauh berbeda. Saya hanya perlu lebih berhati-hati, bukan menghindarinya sama sekali. Meski belum sepenuhnya sembuh, saya sudah memiliki bahan bakar cukup untuk terus bangkit.
Saya Kembali
Meski hidup tidak selalu berjalan mulus, tantangan akan selalu ada, tetapi saya yakin, ini fase baru dalam memulai hidup yang lebih baik. Dimulai dari kesadaran diri untuk terus berkembang, akhirnya saya mulai bisa mengelola insecurity.
Lebih dari itu, saya merasa hidup kembali. Lebih bahagia. Lebih produktif. Lebih mencintai diri sendiri. Lebih peduli dengan sekitar. Terima kasih, diri sendiri. Saya kembali menjadi manusia seutuhnya.
Posting Komentar