Cinta Bukan Kalkulasi, Mengapa Menuntut Saling Mengerti?
Table of Contents
Barangkali, cinta memang salah satu hal paling rumit di dunia. Sejak usia anak-anak, saya juga sering bertanya-tanya, "Apakah ini yang dinamakan cinta?". Meski, sampai sekarang pun, saya juga masih berusaha mendefinisikannya.
Ketika menjalin hubungan dengan seseorang pun, terkadang saya masih mempertanyakan perasaan tersebut. Terkhusus, jika terjadi suatu masalah dalam hubungan. Ketika meminta dimengerti oleh orang lain, saya seringkali bertanya pada diri sendiri.
"Jika cinta membutuhkan syarat untuk dimengerti, apakah hal tersebut masih layak disebut cinta?". Terdengar aneh, memang.
Cinta itu Memberi
Seiring bertumbuhnya usia dan pemikiran, saya mempunyai premis bahwa cinta itu memang perihal memberi. Dalam bentuk apapun itu. Jadi, cinta yang ideal tidak terlalu memusingkan hal-hal yang kita dapat, tetapi hal-hal yang seharusnya bisa diberikan kepada orang lain.
Jadi, jika masih sering menuntut pada orang yang katanya kita cintai, barangkali kita belum benar-benar mencintainya. Meski, sangat wajar dalam suatu hubungan itu memerlukan suatu timbal balik. Namun, bagi saya, jika masih ada tuntutan, barangkali saya memang belum benar-benar mencintainya.
Dari konsep cinta itu memberi pula, saya dapat menyimpulkan bahwa cinta yang ideal datang dari seseorang yang memang sudah penuh. Sudah bahagia. Sudah memiliki. Soalnya, kalau kita sendiri bukan seseorang yang mempunyai sesuatu, bagaimana kita dapat memberi sesuatu pada orang lain?
Mulai dari Mencintai Diri Sendiri
![]() |
| Menjaga kesehatan adalah bentuk self-love |
Ya, tidak akan bisa mencintai dengan sempurna, seseorang yang belum mencintai diri sendiri sepenuhnya. Jadi, tidak heran kalau kita sering mendengar ungkapan, selesaikan dirimu dahulu, baru menjalin hubungan. Menurut saya, itu tepat. Cinta itu amplifikasi. Jika hidup kita sudah berantakan sebelumnya, cinta dapat memperparah.
Maka dari itu, orang-orang yang sedang mengharapkan cinta (meski kalimat ini juga terasa tidak pas), langkah paling baik adalah mencintai diri sendiri dengan memperbaiki diri. Skenario terbaik datang ketika kita sudah menjadi manusia yang lebih baik. Ya, semoga begitu, sih.
Cinta itu Kalkulasi, Tapi untuk Diri Sendiri
Cinta memang bukan kalkulasi. Bukan itung-itungan, siapa yang paling berkorban? Bukan juga transaksional. Namun, mengapa dalam banyak hubungan, setiap dari mereka seakan menuntut untuk saling mengerti?
Jawabannya, tentu tergantung (jawaban normatif anak soshum banget). Nyatanya memang begitu, sih. Sebagian besar dari kita, memang ada kecenderungan untuk dipahami. Bukankah, memahami dengan baik pasangan kita adalah wujud dari cinta itu sendiri? Ya, betul juga.
Akan tetapi, mari kita coba sedikit dalami. Seperti frasa don't judge book by it's cover yang sebenarnya bisa dianggap 'salah' karena penampilan itu penting dan perlu kita perhatikan, frasa cinta itu bukan kalkulasi barangkali memang cocok jika diterapkan untuk diri sendiri.
Artinya... mari mencintai tanpa hitung-hitungan ini dan itu, pada diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum menuntut untuk dimengerti, mari kita coba lebih mengerti orang lain terlebih dahulu. Meski tidak se-saklek hubungan kerja, hak itu datang ketika kewajiban sudah terpenuhi. Idealnya begitu. Namun, cinta juga nggak gitu-gitu amat.
Tulisan ini sebenarnya ditulis untuk orang yang lagi bingung. Kalau semakin bingung, berarti belum saatnya untuk mikirin cinta-cintaan. Dah, sono kerja!

Posting Komentar