Bukankah Kita Perlu Diuji, Jika Ingin Naik Kelas?

Table of Contents

Sebagai manusia biasa, tentu iman saya pun naik turun. Kemarin mengaku telah melakukan dosa atau kesalahan, tetapi di hari berikutnya, masih melakukan hal yang sama. Allah Maha Pemaaf, tetapi rasanya terkadang saya yang tidak tahu malu.

Dalam setiap fase hidup yang telah dijalani, rasanya saya pasti pernah ada pada momen, "Aku akan menjadi lebih baik setelah ini". Entah berjanji untuk tidak membicarakan orang lain, tidak berbohong, maupun bisa shalat lebih awal. Nyatanya, terkadang hal-hal tersebut belum bisa ditunaikan sepenuhnya.

Saya jadi teringat surat Al-Ankabut Ayat 2 yang memiliki arti,

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?

Dengan pemahaman saya yang terbatas akan ayat tersebut, rasanya memang sangat make sense. Seseorang tidak dapat dikategorikan menjadi golongan tertentu, jika tidak diuji terlebih dahulu.

Ujian adalah Filter Kepantasan

Tidak hanya hubungan manusia dengan Allah, hubungan sesama manusia pun diperlukan adanya ujian untuk mengukur kepantasan seseorang. Misalnya, dalam hal pendidikan. Seseorang akan menyandang gelar sarjana ketika sudah melewati sekian semester, melakukan pengabdian kepada masyarakat, hingga menyelesaikan tugas akhir. Tidak bisa seseorang mengaku sarjana jika tidak memenuhi persyaratan tersebut, misalnya.

Bagi saya, itu sangat wajar. Masuk akal. Label atau kategori tertentu yang bersifat duniawi pun, perlu 'diawasi' dengan ketat. Selain menjaga kualitas, juga sebagai tembok yang menjadi jika suatu gelar tertentu (misalnya jika tidak diawasi dengan ketat) akan disalahgunakan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab.

Bukankah, kita, manusia biasa, sering kecolongan suatu gelar maupun label yang disematkan secara serampangan oleh struktur sosial, tetapi ternyata zonk?

Katanya pemuka agama, tetapi berperilaku bejat.
Katanya penegak hukum, tetapi hukumnya bisa dibeli.
Katanya wakil rakyat, tetapi hanya rakyat kaya yang diwakili.

Untuk Kita yang Sedang Diuji

Kita memang manusia biasa. Tidak jarang melakukan dosa. Sesekali menyakiti orang lain. Setidaknya, saya begitu. Keinginan untuk berbenah pasti ada. Selalu ada. Semoga. Namun, ketika hati mulai berkomitmen untuk berbenah, terkadang ujian pun datang.

Hasilnya? Terkadang, kita juga khilaf. Melakukan kesalahan yang sama. Melakukan kebodohan yang tidak berbeda.

Akan tetapi, sejauh apapun kita melangkah, saya ingin menyampaikan ini:
Selama ada perasaan bersalah, perasaan takut, itu artinya masih ada iman dalam diri kita. Rawatlah. Jadikan itu sebagai kompas hidup.

Selama ini, saya meyakini hal tersebut. Ketika diuji dengan kesalahan dan kebodohan yang sama (atau sebenarnya bukan ujian, tetapi kebandelan), saya berusaha mulai dari nol. Merangkak. Mencoba. Meski saya banyak salah dan dosanya, ternyata Allah masih sayang.

Melalui perasaan bersalah.

Melalui perasaan berdosa.

Melalui rasa takut yang menyelimuti hati.

Posting Komentar