Bukankah Kita Perlu Diuji, Jika Ingin Naik Kelas?
Sebagai manusia biasa, tentu iman saya pun naik turun. Kemarin mengaku telah melakukan dosa atau kesalahan, tetapi di hari berikutnya, masih melakukan hal yang sama. Allah Maha Pemaaf, tetapi rasanya terkadang saya yang tidak tahu malu.
Dalam setiap fase hidup yang telah dijalani, rasanya saya pasti pernah ada pada momen, "Aku akan menjadi lebih baik setelah ini". Entah berjanji untuk tidak membicarakan orang lain, tidak berbohong, maupun bisa shalat lebih awal. Nyatanya, terkadang hal-hal tersebut belum bisa ditunaikan sepenuhnya.
Saya jadi teringat surat Al-Ankabut Ayat 2 yang memiliki arti,
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?
Dengan pemahaman saya yang terbatas akan ayat tersebut, rasanya memang sangat make sense. Seseorang tidak dapat dikategorikan menjadi golongan tertentu, jika tidak diuji terlebih dahulu.
Ujian adalah Filter Kepantasan
Untuk Kita yang Sedang Diuji
![]() |
Selama ada perasaan bersalah, perasaan takut, itu artinya masih ada iman dalam diri kita. Rawatlah. Jadikan itu sebagai kompas hidup.
Selama ini, saya meyakini hal tersebut. Ketika diuji dengan kesalahan dan kebodohan yang sama (atau sebenarnya bukan ujian, tetapi kebandelan), saya berusaha mulai dari nol. Merangkak. Mencoba. Meski saya banyak salah dan dosanya, ternyata Allah masih sayang.
Melalui perasaan bersalah.
Melalui perasaan berdosa.
Melalui rasa takut yang menyelimuti hati.

Posting Komentar