Perjalanan Aktualisasi Diri?

Table of Contents
Meski dalam beberapa bulan ke belakang saya tidak produktif menulis, tetapi sebagian orang masih menganggap saya sebagai penulis. Ya, di bio Instagram juga masih dicantumin, sih. Jadi, orang baru sekalipun akan menganggap saya sebagai penulis.

Di sisi lain, saya yang masih berani mencantumkan 'gelar' penulis ini kadang merasa bersalah dengan diri sendiri. Jangankan menulis, membaca buku pun saya sudah jarang. Entah memang dunia ASN yang membuat saya terlena, atau efek life after break up yang memaksa saya untuk menyusun ulang hidup dan prioritas kembali.

Merasa Gagal Berprogres

Dalam lubuk hati terdalam, sebenarnya saya sangat ingin untuk kembali produktif menulis. Namun, rasanya dorongan untuk melakukan aktivitas ini tidak sebesar dulu. Saya kehilangan gairah pada bidang ini. Padahal, akhir 2024 hingga awal 2025, saya sampai bisa mengajak beberapa orang untuk rutin menulis setiap hari.

Buku tak dibaca, menulis tak dilakukan. Terkadang, saya merasa menjadi manusia yang gagal. Tanpa pencapaian. Kok bisa merasa seperti ini, ya?

Padahal, kalau bicara pencapaian, saya tidak tergolong manusia yang payah jika dilihat dalam struktur sosial. Pendidikan? Saya cumlaude dari Universitas Gadjah Mada. Pekerjaan? Saya oneshot diterima sebagai PNS di Pemprov. Jawa Timur. Penampilan? Saya nggak jelek-jelek amat. Public speaking? Bisa, nggak terlalu gemeteran. Tidak merokok.

Ya, sepertinya saya tidak gagal. Hanya dalam fase lelah saja. Atau stagnan?

Mencari Pencapaian

Rute Lari di Pinggir Jalan Raya

Terlepas dari perasaan yang memang valid atau bukan, pada kenyataannya saya sedang sibuk mencari 'kehidupan baru'. Lebih tepatnya sedang masa eksplorasi diri, sih. Sekaligus mencari sesuatu yang bisa dibanggakan. Terlebih, bisa membuat saya merasa menjadi pribadi yang lebih baik. 

Setelah sedikit saya dalami, ternyata inilah yang membuat saya dua bulan ke belakang rutin latihan lari dan membangun otot di gym.

Ya, mungkin beberapa orang juga heran, kenapa nih David tiba-tiba jadi atlet lari. Ya, setidaknya itu asumsi saya karena memang sesering itu posting Strava. Tapi, memang begitulah adanya. Saya seperti menemukan dunia baru.

Bahkan, per hari ini, saya sudah mendaftar dua race. Satunya sudah dilaksanakan akhir Mei kemarin di Malang, satunya lagi Juli depan di Jember. Kok sudah seperti atlet beneran, ya? Pindah-pindah kota segala.

Dunia lari membuat saya merasa memiliki pencapaian kembali. Bukan jumlah lembar yang ditulis, tetapi diukur dengan jarak dan pace yang terus berprogres.

Pentingnya Aktualisasi Diri

Seperti yang dijelaskan dalam Piramida Maslow, seseorang butuh sebuah penghargaan dan aktualisasi diri setelah sandang, pangan, papan serta beberapa hal lain terpenuhi. Inilah yang sedang saya rasakan.

Saya merasa sudah merasa cukup dengan pendapatan yang sekarang. Saya bisa memenuhi banyak hal yang mungkin setahun lalu terasa masih sulit diakomodir. Lalu, sekarang, saya tidak lagi hanya memerlukan kebutuhan akan materi, tetapi lebih dekat pada pencapaian dan penghargaan diri.

Tidak mudah menjalani fase ini. Meskipun begitu, saya terus berusaha bahagia atas apapun yang terjadi dalam hidup. Apalagi, saya merasa hidup dalam banyak keberuntungan. Terima kasih, Tuhan.

Posting Komentar