Seorang Anak yang Mengais Validasi
Table of Contents
![]() |
| Berhenti sejenak di tengah aktivitas lari, "Ini sebenarnya ngapain ya?" |
Semakin bertambahnya usia, saya sadar bahwa peran keluarga dalam proses pertumbuhan seseorang itu sangat vital. Memang, ada beberapa outlier, yaitu individu yang tidak mempunyai latar belakang keluarga utuh dan hangat, tetapi punya kualitas dan pencapaian yang jauh melebihi rata-rata.
Akan tetapi, secara garis besar, seorang anak yang tumbuh dalam keluarga hangat dengan berbagai dukungan yang diberikan, mempunyai potensi menjadi indvidu excellent jauh lebih besar. Bahkan, 'sekadar' perasaan dicintai dengan utuh oleh keluarga, akan berdampak besar kepada banyak aspek hidup seseorang.
Bagaimana Rasanya Diapresiasi?
Saya tumbuh dalam keluarga yang utuh. Namun, memang tidak terbiasa dalam mengungkapkan perasaan bangga, sedih, bahagia, dan perasaan lainnya secara terbuka. Dengan keterbatasan ekonomi dan opsi yang ada, semakin membuat rasa apresiasi seakan hilang. Meski, apreasi itu tidak hanya datang dari aspek materi.
Ingatan seakan memutar selama masa sekolah. Saat itu, saya hampir selalu juara kelas. Jika tidak bisa 5 besar, setidaknya tidak sampai memalukan, lah. Selain itu, ketika SMA, saya aktif berbagai organisasi (seperti menjadi ketua OSIS) dan kegiatan lainnya. Kesibukan semacam itu berlanjut hingga kuliah; ikut BEM UGM, aktif kepanitiaan seperti PPSMB Pionir, serta menjadi asisten dosen. First in my bloodline.
Akan tetapi, rasanya, terkadang saya merasa tidak terlalu membanggakan. Terlebih, jika melihat cara keluarga lain dalam mengapresiasi anaknya. Dengan sebuah ucapan hangat, melalui buket bunga, pertanyaan tentang kabar yang tidak sekadar basa-basi, dan hal-hal yang terlihat sederhana lainnya.
Meski begitu, rasanya memang tidak adil untuk kedua orang tua saya. Mereka tidak menuntut apapun, sekaligus tetap mengusahakan yang terbaik untuk anaknya bisa menyelesaikan perkuliahan hingga mandiri seperti sekarang.
Saya cukup memahami. Namun, dalam hati terdalam, masih bertanya-tanya. Bagaimana rasanya diapresiasi dengan sederhana dan hangat? Terkadang, hal yang terlihat sepele ini, membuat saya tidak merasa cukup dan utuh.
Mengais Validasi
Tumbuh dalam lingkungan yang sedemikian rupa, terkadang membuat saya secara tidak sadar, mencari validasi dari orang lain. Entah itu ke teman dekat maupun melalui tulisan. Ya, saya menyadari, terkadang dalam suatu tulisan, saya terasa seperti haus validasi. Meski, seringnya saya hapus lagi atau dibuat lebih proporsional sehingga tidak terlihat semenyedihkan itu.
Akan tetapi, apakah membutuhkan validasi itu suatu yang salah? Tentu, tidak. Asalkan dalam batas wajar. Sangat manusia ketika seseorang membutuhkan pengakuan dari orang lain. Kuncinya, sekali lagi, dalam batas wajar.
Sayangnya, terkadang batas wajar tersebut bisa saja menjadi kabur ketika dihadapkan pada realitas. Misalnya, karena secara alamiah saya terkadang agak haus validasi, jadi ketika ada orang yang menganggap saya ada dan mengapresiasi dengan cukup hangat, saya terlalu mudah percaya pada orang tersebut. Sebuah ironi.
Sialnya lagi, hal semacam ini tidak hanya terjadi pada saya dan termanifestasi dalam bentuk haus validasi yang beragam. Dalam konteks saya, mengais validasi karena rasa kurang diapresiasi di lingkungan keluarga. Mungkin, pada orang lain, atau bahkan kamu sendiri, bisa dalam bentuk yang berbeda.
Kurang kasih sayang orang tua, mencari dari orang lain. Berakhir dimanipulasi. Padahal, sadar kalau hubungan tersebut toxic, tetapi sulit lepas. Sounds familiar? Ini adalah bentuk yang lebih berbahaya.

Posting Komentar