Ketika Kita Benar-benar Menginginkan Sesuatu

Table of Contents

Dalam fase hidup yang singkat ini, kita pasti pernah mengalami sebuah rentetan waktu ketika kita benar-benar fokus mengejar hal yang diinginkan. Entah itu mengejar kampus impian, beasiswa, menyelesaikan buku pertama, hingga mengejar dia yang mungkin tidak menghiraukan kita.

Rentetan waktu super focus seperti ini pernah saya alami ketika memperjuangkan kampus impian, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM). Bagi seorang anak kabupaten yang tidak memiliki relasi dan pengetahuan yang terbatas, perjuangan tersebut sangat terasa. Namun, pada akhirnya, perjuangan tersebut terbayar tuntas.

Saya bisa masuk UGM, bergabung ke beberapa kegiatan dan organisasi bergengsi, hingga lolos cumlaude. Bukan yang terbaik dalam angkatan, tetapi ini adalah versi jauh lebih baik dari saya sebelumnya.

Memang benar, ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, seringnya perjuangan kita akan dipermudah. Ya, meski, tidak semua hal yang kita perjuangkan akan menjadi kenyataan. Ada hal-hal yang mungkin kita inginkan, tetapi sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan.

Harga Sebuah Fokus

Rute Long-run di Akhir Pekan

Ketika ini ditulis, beberapa minggu ke belakang saya sangat fokus pada latihan half-marathon. Ya, ini akan menjadi ajang race terpanjang saya dalam hidup. Saya mau membuktikan, bagi seorang David yang tidak atletis ini, lari sepanjang 21,0975 kilometer adalah sesuatu yang mungkin. Seorang yang awalnya hanya bisa berlari ratusan meter, ternyata sanggup berlari puluhan ribu meter. Semoga.

Akan tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa  selama proses ini (dan proses tersebut masih berlangsung), banyak hal yang harus saya negosiasikan. Benar-benar banyak hal. Namun, hal-hal tersebut pula yang membuat saya merasa menjadi versi diri lebih baik.

Saya perlu menegosiasi diri sendiri untuk makan lebih teratur. Tidur lebih awal, meski scrolling itu bisa membanjiri jiwa dengan dopamine. Rela tidak terlalu sering makan pedas. Tidak mengiyakan ajakan keluar karena harus latihan maupun recovery.

Di sisi lain, saya perlu menerima diri bahwa sebagian energi memang sudah terfokus pada kegiatan lari. Akibatnya, ada konten yang harusnya dieksekusi, terbengkalai. Ada tulisan dari awal tahun yang belum rampung. Ada beberapa kawan yang chat-nya saya marinasi beberapa hari karena memang kehabisan energi.

Pada akhirnya, saya menerima diri bahwa tidak semua hal bisa ditanggapi dan respons saat itu. Ada yang memang hanya perlu ditunda atau bahkan diacuhkan.

Apakah... Kita Benar-benar Menginginkannya?

Fase memperjuangkan UGM hingga berlatih untuk virgin half-marathon semakin mengingatkan saya bahwa jika kita benar-benar menginginkan sesuatu, kita akan meluangkan waktu untuknya. Sesibuk apapun. Secapek apapun.

Belajar setiap hari.
Latihan setiap malam.
Bangun lebih pagi.
Menolak sebuah ajakan.
Dan sebagainya.

Hal-hal yang bagi orang yang tidak memiliki ambisi, akan terlihat seperti obsesi. Padahal, bagi kita yang menjalaninya, sangat menikmati semua prosesnya. Meski, nikmat bagi setiap orang itu mungkin berbeda. Terkadang, menikmati itu bisa memiliki arti menerima semua rasa sakit dalam fase berproses.

Di sisi lain, saya jadi sadar bahwa jika sebagian mimpi yang belum tercapai hingga saat ini, barangkali karena belum benar-benar menginginkannya. Hanya sebatas ingin. Masih dalam batas berandai-andai.
"Jadi penulis best-seller mungkin terdengar mengesankan."
"Lanjut studi master di luar negeri, mungkin seru."
"Punya tabungan puluhan juta mungkin akan bikin hidup lebih tenang."
Sekali lagi, jika kita belum mengerahkan semuanya untuk hal tersebut, barangkali kita memang belum benar-benar menginginkannya.

Posting Komentar