Hobi yang Menjadi Pekerjaan, Terkadang Mengandung Sebuah Kutukan

Table of Contents
Tiba di Pantai Slopeng, Kab. Sumenep untuk sebuah konten instansi

Setiap orang, pasti setidaknya mempunyai sesuatu yang sangat digemari. Mulai dari hal-hal sederhana yang biasa orang lakukan, sampai hobi unik yang tidak semua orang mengerti. Dan sebagian orang mengatakan, hobi yang baik, bisa menghasilkan uang. Bahkan, menjadi sebuah pekerjaan.

Akan tetapi, hobi yang menjadi sebuah pekerjaan, tidak selalu baik. Apalagi, hobi tersebut, pada akhirnya menyita waktu kita terlalu banyak, sekalipun tidak mau melakukannya. Jika hobi dilakukan karena kita memang menyukainya, di sisi lain hobi yang menjadi pekerjaan menuntut kita melakukan sesuatu bahkan ketika tidak ingin menikmatinya.

Hobi yang dibayar, terkadang memang menjadi bumerang.

Hobi Seharusnya Membuat Kita 'Bebas'

Saya suka menulis. Efeknya, saya cukup sering menulis di media digital. Dalam proses ekskalasi hobi tersebut, saya mempelajari hal lain yang sangat berkaitan: digital marketing di media sosial. Sesuatu yang tidak asing dan sudah saya dalami bahkan sebelum masuk di bangku kuliah.

Bermodal pengetahuan dan pengalaman tersebut, di pekerjaan saat ini, saya mengambil pekerjaan cukup berisiko, jobdesc yang dihindari sebagian orang; mengelola media sosial instansi. Pikir saya waktu itu; media sosial instansi belum dijalankan dengan optimal, saatnya saya berkontribusi.

Akan tetapi, selayaknya sebuah instansi yang belum melek digital secara utuh, mengelola media sosial sangat menyita waktu. Butuh kerja sama tim. Butuh pemahaman seragam. Jika dilakukan dengan mode solo fighter, tidak akan berjalan dengan maksimal. Tidak jauh berbeda dengan kondisi awal.

Saya senang bisa berkontribusi. Namun... mengelola media sosial instansi, sangat berbeda dengan mengelola akun pribadi. Harus selalu aktif. Membuat kalender konten dengan serius. Menciptakan pola komunikasi visual yang seragam. Mengalah pada rekan tim yang bisa saja tidak mempunyai sense of design.

Sesuatu yang biasanya dilakukan sesuka hati, sekarang penuh dengan tuntutan. Semua hal menjadi profesional. Saya dibayar, salah satunya untuk itu. Bagaimana jika ada suatu fase ketika kurang menikmatinya, tetapi kita tetap harus melakukannya? Begitulah dewasa. Terkadang, kebebasan adalah suatu hal yang perlu dikesampingkan.

Titik Jenuh yang Selalu Ku Benci

Menjadi terlalu profesional sekaligus kaku pada hal yang seharusnya bisa nikmati dengan santai, bukan satu-satunya kutukan hobi menjadi sebuah pekerjaan. Ada satu hal lagi. Sesuatu yang membuat saya sering kehilangan waktu pada hal-hal yang disukai, tetapi sudah menjadi pekerjaan: titik jenuh menjalani sebuah hobi.

Ingin membuat konten pribadi, tetapi seharian sudah membuka Canva Premium di laptop kantor. Ingin menyusun naskah konten pribadi, tetapi setiap harinya berkutat dengan naskah konten instansi. Sebenarnya, konten pribadi tetap saja bisa dijalankan. Namun, bukankah setiap orang mempunyai titik jenuh?

Sesuatu yang dilakukan berulang, tetapi tidak selalu kita nikmati, akan menghasilkan efek yang terkadang... memuakkan. Apakah hobi yang berubah menjadi pekerjaan... memang sebuah kutukan?

Saya menghargai sebuah proses. Saya tidak lupa untuk bersyukur setiap harinya. Namun, setiap orang pasti akan menghadapi fase jenuh. Bukankan, memang begitulah hidup, ya? Barangkali saya jenuh pada aktivitas ini agar menemukan lebih banyak cara untuk menikmati hidup. 

Posting Komentar