Bukankah Manusia Terus Berkembang?

Table of Contents
Mandatory selfie ketika melihat sebuah bayangan

Awal Oktober 2026, saya akhirnya bisa menyelesaikan agenda half-marathon untuk pertama kalinya dalam hidup. Tentu, ini pencapaian yang sangat saya banggakan di tahun ini. Pasalnya, dari seorang yang tidak mempunyai basic olahraga hingga menuntaskan 21 km tanpa henti itu sama sekali bukan perkara yang mudah.

Akan tetapi, meskipun diliputi rasa bangga, selama masa rest beberapa minggu ini, saya jadi bertanya pada diri sendiri. Selanjutnya, pencapaian apa lagi yang ingin saya kejar ya? Menerbitkan buku sendiri meskipun belum di penerbit mayor sudah terlaksana. Half-marathon juga sudah. Apa mencari pencapaian yang lebih memuaskan pada dua bidang ini, atau mencoba hal lain?

Pada titik ini, saya juga jadi satu hal: identitas diri kita akan terus berkembang dan dapat dibentuk sesuai keinginan. Misalnya, tidak ada yang menyangka (bahkan saya sendiri) bahwa seorang David penulis, menjadi seorang pelari yang cukup serius hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Ini mengisyaratkan bahwa saya dan termasuk pembaca tulisan ini, akan selalu mempunyai kesempatan untuk membentuk ulang identitas diri.

Sebuah Label yang Mengekang

Setidaknya dalam 5 tahun terakhir, saya dengan berani melabeli diri sendiri sebagai penulis. Meski belum menciptakan karya fenomenal, tetapi saya tetap menulis; artikel, esai, buku, dan lain-lain. Identitas tersebut yang terus saya lekatkan pada diri sendiri dan bahkan juga menempel pada kepala orang lain.

Akan tetapi, secara tidak sadar, saya juga membatasi potensi diri sendiri dengan label tersebut. Saya belajar desain, tetapi tidak cukup berkembang karena merasa lebih cocok menyampaikan pesan melalui tulisan. Saya mencoba membuat video, tetapi dalam lubuk hati terdalam, menyanggah bahwa bisa menghasilkan video yang disukai banyak orang.

Label seorang penulis yang hanya mampu memaksimalkan pesannya melalui tulisan, membuat saya tidak mengerahkan potensi maksimal ketika belajar hal lain. Saya melabeli diri sendiri dan sedikit menolak untuk sebuah perkembangan identitas.

Sialnya, label yang ditancapkan oleh setiap individu itu berbeda. Ada yang berkaitan dengan profesi atau hobi dan umumnya bersifat positif, tetapi ada pula yang melabeli diri sendiri dengan sifat-sifat negatif. Poin kedua ini lebih bersifat destruktif.

Kita Semua Dapat Dibentuk Ulang

Saya tahu, belajar hal baru itu bukan perkara mudah. Mendalami hal yang sepenuhnya berbeda dari kebiasaan kita, pasti akan menyajikan berbagai tantangan. Namun, selama kita memang percaya hal tersebut penting dan layak dipelajari, tidak ada yang terlalu sulit untuk dilakukan.

Saya memang cukup bangga dengan label penulis. Namun, bukan berarti saya tidak mau menambah label lain untuk menjadi pribadi yang lebih. Mungkin, besok saya akan mempelajari musik. Barangkali, besoknya lagi saya akan mempelajari beladiri. Tahun depan, bisa saja saya belajar bisnis dan membuka perusahaan pertama. Tidak ada yang tahu.

Begitupula label-label yang berkaitan dengan sifat. Mungkin kita sekarang menganggap diri sendiri kurang konsisten, tetapi bukan berarti kita tidak bisa konsisten pada pekerjaan berikutnya. Kita mungkin sempat menjadi seorang pemalas, tetapi di hari esok, kita bisa mempelajari agar bisa terus produktif meski dalam keadaan low mood.

Identitas kita tidak berhenti pada hari ini. Kita akan terus berkembang. Sekarang, hari esok, dan selamanya. Akan selalu ada kesempatan.

Posting Komentar